Seringnya, aku menulis saat kalut sedang penuh penuhnya mengguncang kesabaranku, saat tak lagi ada telinga untuk mendengarkanku atau saat aku sudah tak mampu lagi menahan imajinasi manis dalam benakku. Tapi kali ini biarkan aku bercerita tentang beberapa malam yang aku lewatkan dengan senyuman bahkan tidur nyenyak dengan mimpi paling indah yang pernah hadir dalam buaian.
Aku masih ingat, malam malam panjang penuh luka karena hilang muncunya bintang. Aku dipertemukan dengan sebuah senyum yang bisa aku katakan berhasil menyita semua perhatianku. Entah dengan bagaimana caranya, sang pemilik senyum ini bisa mencuri perhatian yang biasanya begitu penuh ku curahkan untuk bintang. Dan untuk pertama kali, aku tak takut untuk tak melihat bintang.
Semesta memang tak pernah gagal menjadi sahabat terbaikku. Aku tak pernah menyesal sering menyebutnya dalam tulisanku. Ia memang benar benar bereperan penting dalam banyaknya kebahagiaanku. Sekali lagi, ia mempertemukanku dengan kebahagiaanku. Akan sedikit ku ceritakan bagaimana keikut sertaan semesta membuat senyumku mengembang dengan sempurna.
Aku ini penakut. Pengecut. Aku sering memendam apa yang kurasakan sendirian. Bahkan, perihal perasaan. Pria ini, telah mencuri sedikitnya setengah akal sehatku. Aku tak tahu bagaimana bisa ia menjadi magnet sekuat itu, membuatku sering melakukan hal memperhatikannya dengan jelas. Kadang semesta memang selucu itu,
Aku masih ingat bagaimana antusiasnya aku saat ku lihat ia hadir pertama kali beberapa taun lalu, ia baru pulang kerja datang ke depan tok buah untuk menemuiku pertama kali , melepas helmnya, memegang hape atau saat ia tersenyum kepadaku, bukan karena ia mengenalku, ia tersenyum karena rambut yang aku ikat model ryn chibi dulu :D. Ah, aku tak bisa dengan mudah melupakan senyuman itu.
Aku tak tahu, bagaimana lagi aku harus mengucap syukurku karena dipertemukan dengannya. Pria yang dengan sabarnya meladeni tingkah ke kanak kankanku, pria yang begitu tulus mencurahkan perhatiannya padaku, pria yang takkan membiarkanku menangis sendiri, pria yang takut kehilanganku, pria yang aku cintai. Tak butuh waktu lama untuk membuatku semakin jatuh hati padanya. Tak butuh waktu lama pula untukku mengenyampingkan segala hal yang pernah aku takutkan akan terjadi jika aku bersamanya. setidaknya untuk saat ini aku tahu, aku takkan berjuang sendirian.
Siapa sangka, pertemuan kami yang sederhana itu membuatku mencintainya sedalam ini. Aku seperti tak bisa jauh darinya, aku seringkali merengek tak jelas hanya karena aku merindukan waktu waktu bersamanya, bahkan mungkin dia kesal dengan rengekanku,jadi mohon maafkan aku.
Dear You,
Hai, jika kamu membaca ini kau harus tau, ini untukmu, dan detik itu pula kamu harus menyadari betapa aku menyayangimu. Aku mohon maaf jika wanitamu ini begitu cengeng, menyusahkan, dan sangat manja.
Aku mohon maaf jika aku merepotkanmu dengan segala hal yang aku minta, aku hanya ingin bersamamu, menghabiskan waktu hanya untuk sekedar bersendau gurau. Aku tak butuh berjalan jalan jauh ataupun seperti pasangan lain yang menghabiskan banyak materi untuk kesenangan singkat. Aku sudah sangat bersyukur jika menghabiskan sore hari berdua hanya dengan mengobrol bersama, aku juga sangat bersyukur jika bisa mengahabiskan minggu pagi yang menyenangkan bersamamu. Aku tak meminta ini dan itu, cukup waktu untukku berdua bersamamu.
Terimakasih telah menjadi pria yang begitu sabar menghadapi tingkah dan tangisku. Terimakasih untuk selalu berusaha membuatku berada di sisimu. Terimakasih karena telah mencintai dan menyayangiku.
Penuh cinta,
Maftuhatul farihah :)